Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

RSS

Entah.


Aku tidak tahu apa yang aku tunggu dan siapa yang aku tunggu. Karena untuk saat ini rasanya sendirian pun lebih baik, meski aku juga tak memungkiri setiap rasa sepi yang terkadang timbul tanpa diminta.

Setiap orang yang bertemu denganku, mereka selalu bilang "apa yang ditunggu? sementara masih ada diluar sana yang mau berjuang untuk bisa bersama kamu. Siapa yang ditunggu? Sementara Dia yang tanpa lelah bersikeras menunggu kamu."

Lagi, lagi, dan lagi. Aku tidak tahu apa dan siapa yang aku tunggu, karena sebenarnya memang tidak ada yang aku tunggu. Jelasnya, aku hanya ingin sendiri untuk sementara waktu yang entah sampai kapan.

Tapi terkadang aku sempat memikirkan apa yang mereka selalu bilang kepadaku. Tentang masih ada orang yang ingin berjuang untuk bisa bersamaku dan tentang Dia yang tanpa lelah bersikeras menungguku. Benarkah semua itu? Atau hanya harapan yang nantinya tidak akan pernah terjadi?

Itulah yang aku takutkan. Bukannya aku ingin mengharapkan seseorang agar memperjuangkanku, karena mungkin itu terlalu egois. Tetapi, selama ini seseorang yang katanya ingin memperjuangkanku tidak pernah menunjukkan apapun kepadaku. Bagaimana aku bisa mengerti, jika seseorang itu tidak menjelaskannya.

Bukankah setiap wanita menginginkan sebuah pernyataan? Tidakkah kamu tahu itu? Pernyataan apapun dalam satu kalimat yang sangat jelas, apa memang sesulit itu? Jika memang sulit, tidak usah. Hanya saja jangan pergi. Tetaplah tinggal sampai akhirnya aku sendiri yang menyadarinya.

Entahlah mungkin hanya itu yang bisa aku tulis untuk saat ini. Entah kapan aku mengakhiri kesendirian, aku tidak tahu. Entah kapan rasa sepi itu tidak menghinggap, karena sepi tidak hanya datang ketika sendirian.

Entah..... Entah....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Semenjak Hari Itu. . .

Hari dimana kamu pergi adalah salah satu hari yang mungkin berat -yang pernah dilalui- bagiku.

Pada saat kita memutuskan untuk berpisah bukanlah hari itu, karena kita sama-sama meyakinkan bahwa itu memang yang terbaik.

Sampai akhirnya hari itu tiba...

Hari dimana kamu pergi dan hari dimana mereka selalu mengulang-ulang mengatakan padaku kata "yang tabah", hal-hal semacam itulah.

Sedangkan aku?

Pada hari itu aku tidak tahu, harus menangiskah atau berpura-pura tidak tahu atas apa yang telahku dengar?

Itu sungguh pertama kalinya untukku.

Tapi jelas bukan pertama kalinya aku ditinggalkan.

Hanya rasanya denganmu berbeda, entah karena kita pernah dekat atau masih ada sisa tentang dirimu di dalam diriku?

Hari setelah hari itu kekosongan selalu menghampiri di setiap detik dan menitnya.

Kekosongan itu membawa dirimu ke dalam ingatanku -menguncinya seakan-akan kamu memiliki peran penting dalam hidupku yang kemudian hilang tak berbekas-

Namun, seiring berjalannya waktu...

Entah karena kesibukan atau aku yang perlahan mulai mengikhlaskan, kamu mulai menghilang samar-samar dalam ingatanku.

Aku tak lagi sedih ketika ada hal kecil yang mengingatkanku tentangmu.

Aku tak lagi membuat diriku terlihat begitu menyedihkan karna kehilangan kamu.

Hanya saja hatiku -setidaknya untuk saat ini- masih belum dapat kumengerti.

Ia terasa begitu kosong dan terisi disaat yang bersamaan.

Hingga membuatku lupa bagaimana caranya membuka jalan hatiku untuk oranglain.

Semenjak hari itu, hidupku tak sama lagi...

Anehnya aku lebih mencintai diriku sendiri dan membuat keheningan adalah nikmat yang harus disyukuri -setidaknya untuk saat ini-.

(AR)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pages