Terlihat tegar bukan berarti tidak rapuh. Justru karena tidak ingin terlihat rapuh, seseorang berusaha terlihat tegar di hadapan orang lain.
Bertahun-tahun aku berusaha menata hatiku. Mencoba menyatukan kepingan - kepingan yang patah. Meski aku tahu tidak akan sekokoh dulu. Tapi aku mencoba dan terus mencoba.
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit hatiku mulai tertata kembali dan terasa seperti hati baru. Hati yang belum tersentuh oleh luka. Jika kamu tanya, apa aku bahagia dengan diriku yang seperti ini? Tentu saja untuk saat itu jawabannya adalah Ya. Kenapa? Karena perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Aku bisa menata hatiku, sehingga luka yang pernah ada pun tak bersisa.
Lalu, kemudian kamu datang menawarkan sesuatu yang kamu sebut cinta kepadaku dan mulai menggoyahkan hatiku yang telah tertata ini. Pada saat ini apa yang harus aku lakukan?
Menerima tawaranmu dan membiarkanmu menggenggam hatiku, namun kemudian kamu hancurkan? Tidak. Aku tidak mau. Atau menjauhimu dari awal? Tapi bukankah itu berarti aku sangat kejam? Karena sebenarnya pun aku juga ingin lebih mengenalmu.
Tapi ternyata logika tidak sejalan dengan perasaanku. Perlahan aku membiarkan kedekatan ini mengalir dengan sendirinya. Sampai rasanya aku ingin mempercayakan hatiku ini kepadamu, meski akhirnya akan kamu hancurkan. Tetapi bahkan sebelum aku mempercayakannya kepadamu, kamu sudah lebih dulu menghancurkannya.
Bukan salahmu, tetapi salahku lah yang terlalu lama tak menanggapimu.
Salahku yang membuatmu larut dalam ketidak-pastian. Maka jikapun kamu pergi dan memilih yang lain, itu juga bukan salahmu.
Terimakasih untuk waktu singkatmu, terimakasih untuk kesabaranmu meyakinkanku bahwa kepingan yang patah, sekalipun Ia bisa tertata sedemikian rapih. Suatu saat akan hancur juga terhanyut perasaan - Anita Rismawati






0 komentar:
Posting Komentar